Mutiara Hadist

" Sesungguhnya Allah SWT. berfirman pada hari kiamat : Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku ? hari ini akan Aku naungi ( tolong ) mereka, dimana tidak ada naungan ( pertolongan ) yang lain selain dari-Ku. " ( HR. Muslim )

My Project

Tailor-made Logo Design at 99designs

Sponsors

Promo




Rabu, 12 November 2008

Sekolah Jaman Belanda

Saat ini kita mengenal sekolah-sekolah seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ( SLTA ). Sebetulnya pada jaman Belanda dulu juga sudah ada sekolah-sekolah yang setingkat dengan sekolah seperti yang diatas. Banyak diantaranya sekolah-sekolah tersebut menjadi tempat pendidikan yang sangat berguna bagi bangsa Indonesia, banyak para peminpin Indonesia yanmg sempat mengenyam pendidikan pada jaman Belanda dulu.

Pada jaman penjajahan Belanda, sekolah-sekolah tersebut diantaranya adalah :

1. ELS (Eurospeesch Lagere School) sekolah dasar dengan lama studi sekitar 7 tahun. Sekolah ini menggunakan sistem dan metode seperti sekolah di negeri Belanda. ELS menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya dalam pelajaran. Awalnya hanya terbuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda, sejak tahun 1903 kesempatan belajar juga diberikan kepada orang-orang pribumi yang mampu dan warga Tionghoa.Setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda beranggapan bahwa hal ini ternyata berdampak negatif pada tingkat pendidikan di sekolah-sekolah ELS dan kembali dikhususkan bagi warga Belanda saja. Sekolah khusus bagi warga pribumi kemudian dibuka pada tahun 1914 dengan nama Hollandsch-Inlandsche School ( HIS ), sementara sekolah bagi warga Tionghoa, Hollandsch-Chineesche School (HCS) dibuka pada tahun 1908

2. HBS (Hogere Burger School) yang merupakan sekolah lanjutan tinggi pertama untuk warga negara pribumi dengan lama belajar 5 tahun, dan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Pendidikan HBS selama 5 tahun setelah HIS atau ELS adalah lebih pendek dari pada melalui jalur MULO (3 tahun) + AMS (3 tahun). Di sini dibutuhkan murid yang pandai, terutama bahasa Belanda. Bung Karno merupakan salah satu murid HBS di Surabaya sebelum beliau masuk THS ( sekarang ITB ) di Bandung. Pada waktu itu HBS hanya ada di kota Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta dan Medan, sedangkan AMS ada di kota Jakarta, Bandung, Medan, Yoyakarta dan Surabaya.

3. Sekolah Bumi Putera (Inlandsch School) dengan bahasa pengantar belajarnya adalah bahasa daerah dan lama study selama 5 tahun.

4. Sekolah Desa (Volksch School) dengan bahasa pengantar belajar bahasa daerah sekitar dan lama belajar adalah 3 tahun.

5. Sekolah lanjutan untuk sekolah desa (Vervolksch School) belajar dengan bahasa pengantarnya bahasa daerah dan masa belajar selama 2 tahun.

6. Sekolah Peralihan (Schakel School) yaitu sekolah lanjutan untuk sekolah desa dan berbahasa Belanda dalam kegiatan belajar mengajar. Schakel School adalah Sekolah Rakyat untuk persamaan dengan murid yang berasal dari Tweede Inlandsche School dan masa pendidikan adalah selama 5 tahun, sehingga lulusannya dipersamakam dengan lulusan HIS.

7. Tweede Inlandsche School atau Sekolah Kelas Dua atau Sekolah Ongko Loro merupakan Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar dengan masa pendidikan selama Tiga Tahun dan tersebar di seluruh pelosok desa. Maksud dari pendidikan ini adalah dalam rangka sekedar memberantas buta huruf dan mampu berhitung. Bahasa pengantar adalah bahasa daerah dengan guru tamatan dari HIK Bahasa Belanda merupakan mata pelajaran pengetahuan dan bukan sebagai mata pelajaran pokok sebagai bahasa pengantar. Namun setelah tamat sekolah ini murid masih dapat meneruskan pada Schakel School selama 5 tahun yang tamatannya nantinya akan sederajat dengan Hollandse Indische School.

7. Hollandsche Javansche School atau Sekolah Jawa sebangsa dengan Tweede Inlandsche School yang ada di Pulau Jawa dan dengan pengantar Bahasa Jawa.

8. Kweekschool adalah salah satu sistem pendidikan di zaman Hindia Belanda, terdiri atas HIK (Holandsche Indische Kweekschool), atau sekolah guru bantu yang ada di semua Kabupaten dan HKS (Hoogere Kweek School), atau sekolah guru atas yang ada di Jakarta, Medan, Bandung dan Semarang. Europeesche Kweek School (EKS) yang hanya diperuntukan bagi orang Belanda atau pribumi ataupun orang Arab/Tionghoa yang mahir sekali berbahasa Belanda, dan hanya ada di Surabaya. Pada waktu itu misalnya satu kelas ada 28 orang, maka terdiri 20 orang Belanda, 6 orang Arab/Tionghoa, dan 2 orang pribumi. Selain itu juga dikenal Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK) khusus untuk yang keturunan Tionghoa. Di Muntilan ada Katholieke Kweek School atau sebangsa seminari khusus untuk guru beragama Katholiek. Setelah K.H.A. Dahlan mengujungi Muntilan, maka beliau juga terinspirasi mendirikan bagi orang Islam, yaitu Muallimin di Yogyakarta

9. MULO Sekolah lanjutan tingkat pertama singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs dengan tingkatan yang sama dengan smp / sltp pada saat jika dibandingkan dengan masa kini. MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 30-an, MULO sudah ada hampir di setiap kota kawedanaan ( Kabupaten ).

10. Stovia (School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen) yang sering disebut juga sebagai Sekolah Dokter Jawa dengan masa belajar selama 7 tahun sebagai lanjutan MULO. Saat ini sekolah ini telah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Demikian sekolah-sekolah jaman Belnda dulu yang lulusannya banyak yang menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia seperti Bung Karno, Bung Hatta, Cornel Simanjuntak, Dr. Sutomo, Dr Wahidin dll.

sumber dari organisasi.org dan wikipedia indonesia

2 komentar:

lintasmarketing mengatakan...

Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa posting berita Anda di http://www.lintasberita.com/ dan memasang WIDGET Lintas Berita di website Anda yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia dan menambah incoming traffic di website Anda.

Anonim mengatakan...

Deutschland-Schweden

Out of Europe

"Best" war ein Nordallianz ml Europa, Russland und Japan (große Krieger Personen)

Wenn es nicht gehen, wie Deutschland - Schweden

2 Möglichkeiten wirklich

1. große Armee (stehend)
2. intelligenter - flexiblere Variante = Patente und Innovation, Kreativität (und Gemeinschaft), in denen neues Wissen und qualifizierte Züchter der alten Krieger-Mentalität

Auf den weltweit führenden Weltraum-Programm (Kiruna)


http://sverigepatentet.blogspot.com/

http://www.dagobertsbloggen.blogspot.com/

Iklan